Ahli pitulung. Maksudnya bagi orang-orang yang dengan hidayah Allah selalu bertempat tinggal / selalu berada di dalam pertolongan Allah.
Yaitu mereka yang dengan pertolongan Allah dijadikan mengerti seyakin-yakinnya kandungan makna yang tersimpan di dalam QS. Al-Qadr. Bahwa sesungguhnya yang telah diturunkan Allah pada malam (simbul gelap gulitanya manusia yang hidupnya larut dengan mimpi-mimpi gelap. Hidupnya habis diperintah, dijajah dan diperalat nafsu dan watak akunya. Sama sekali tidak menyadari bahwa telah divonis Allah innahu kaana dzaluman zahula. Sehingga sama sekali buta kesadarannya sebagai al-faqir [insan yang seharusnya sangat butuh Allah - Tuhan Sang Maha Hidup]. Karena itu sama sekali tidak pernah butuh kepada Allah bahwa Allah itu Huwa (QS. Fathir: 15). Maka yang menguasai jiwaraganya adalah wataknya yang melampaui batas karena memandang dirinya telah serba cukup (QS. Al ‘Alaq: 6,7). Akibatnya maka mereka sungguh tidak pernah mengetahui Al-Haq (Ada dan WujudNya Dzat Al-Ghayb Yang Mutlak WujudNya Allah namaNya, jelas amat sangat dekat sekali dalam rasa hati. Jelas mudah diingat-ingat dan dihayati Dzat yang senantiasa menyertai dan meliputi hamba-hambaNya ini), karena itu mereka semua berpaling (QS.21:24).
Dibalik keadaan hidup dan kehidupan manusia sebagaimana di atas, Allah membentuk Al-Qadr. Yaitu kemuliaan. Memuliakan hambaNya diangkat sebagai kekasihNya dengan telah diturunkan-Nya (Nur muhammad = Ilmu Nubuwah di dalam rasa hatinya oleh hamba yang diutus Allah mewakili DiriNya karena Dia adalah Dzat Al-Ghayb, yaitu Wasithah).
Itulah malam kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan.
Apabila manusia merasa mulia tanpa mengerti maksud Tuhan yang sesungguhnya terhadap hamba, itu hanya "sekedar" dimuliakan didepan manusia, atau yang disebut "istidroj" ... di lulu !!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar