Minggu, 21 Juni 2009

Carilah Kemuliaan yang tak Sirna

"Apabila dirimu ingin meraih kemuliaan yang tak pernah sirna, maka janganlah berusaha mendapatkan kemuliaan melalui kemuliaan yang sirna."

Syeikh Zarruq menegaskan, setiap kemuliaan di dunia ini sesungguhnya fana dan sirna. Sebaliknya sebagaimana dikatakan Ibnu Athaillah dalam kitabnya At-Tanwir, "Jika anda meraih kemuliaan bersama Allah maka abadilah kemuliaanmu. Tetapi jika anda meraih tanpa Allah, tiada abadi atas kemuliaanmu."

Imam Al-Ghazali dalam statemennya menyebutkan bahwa Allah swt mengecam dunia ini 115 kali lebih dalam Al-Qur'an. 

Perburuan duniawi begitu kuat di alam modern dewasa ini, dan hampir seluruh aktivitas peradaban dunia diarahkan pada perburuan meraih puncak global: kekuasaan duniawi, kemuliaan duniawi, prestasi duniawi, yang secara keseluruhan akan sirna. Karena itu pasti yang serba duniawi tidak abadi, kemuliaannya pun sirna. Lalu alibi apalagi yang harus kita ajukan bagi sebuah kemuliaan yang tak abadi?

Peristiwa-peristiwa bencana alam, peristiwa perang, peristiwa persaingan global, bahkan pada tingkat lokal, semacam Pilkada, Pilkades, Pemilu, pun sangat tidak tampak unsur-unsur Ukhrowinya, kecuali hanya memanfaatkan jargon-jargon akhirat untuk melegitimasi kepentingan duniawi.

Cobalah anda tengok diri anda dari lompatan waktu di akhirat. Lihat diri anda sedang menelusuri jalan-jalan dunia, lorong-lorong pengap yang menyesakkan dada anda. Lihatlah diri anda sedang mengais sampah, mengendus-endus tumpukan sampah tidak ubahnya seperti anjing yang meraih sisa-sisa. Dimana hatimu ketika itu? Dimana jiwa bersama Tuhanmu ketika itu? Dimana jatidirimu saat-saat seperti itu? Apa yang memperdayaimu hingga dirimu durhaka pada Tuhanmu Yang Maha Pemurah?

Semestinya jiwamu, hatimu, ruhmu berada di singgasana kemuliaan bersama Allah, di Istana Allah, di lembah-lembah Malakut dan mengarungi Lautan Jabarut.

Semestinya hatimu berada dalam Majlis bersama Rasul saw, para sahabat, para Sufi agung, para Ulama saleh, dalam limpahan Cahaya dan pencerahan.

Semestinya pula dunia ini hanyalah wilayah dimana kita menjalankan perintah-perintahNya, menjauhi laranganNya, memancarkan peradabanNya, mengekspresikan kekhalifahanNya, dalam Khoiro Ummah (sebaik-baik ummat) di muka bumi. 

Dunia adalah limbah paling gelap dan paling kotor dari kemahklukan ini, dan di sinilah justru kita diuji, disempurnakan, dikokohkan agar bisa dan siap menghadap kepadaNya, dengan hati dan jiwa.

Senin, 15 Juni 2009

ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH,

UNTUK UKHTI RATNA WIDIASTUTI, S.Psi [UNILA] DIMANAPUN BERADA TOLONG MASUK KE BLOG SAYA DAN BERI SAYA NO HP DI E-MAIL SAYA YA . . . ALKHAMDULILLAAH JAZA KILLAHU KHOIRO KATSIRO. WASSALAM.

Minggu, 14 Juni 2009

Inilah Musuh Iblis . . .

1. orang yang beramal dengan ilmunya,
2. orang yang mengamalkan isi ajaran Al-Quran,
3. orang yang azan untuk sembahyang fardhu,
4. orang yang mengasihi si miskin dan anak yatim,
5. orang muda yang taat kepada Allah,
6. orang yang penyayang,
7. orang yang menjaga kehalalan apa-apa yang dimakan dan diminumnya, 
8. orang yang suka sembahyang berjemaah,
9. orang yang suka bertahajjud di tengah malam,
10. orang yang senantiasa mengekalkan wudhu guna menjaga kesucian, 
11. orang yang murah hati, suka bersedekah,
12. orang yang menjaga tuturkata dan akhlaknya,
13. orang yang menasihati saudaranya dengan ikhlas,
14. orang yang menjaga waktu solatnya,

ALLAHU AKBAR !

Minggu, 07 Juni 2009

Putra-putri Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam 

Pada zaman jahiliyah, kelahiran seorang bayi perempuan adalah lembaran hitam dalam kehidupan sepasang suami istri. Bahkan merupakan lembaran hitam bagi keluarga dan kabilahnya. Kepercayaan masyarakat jahiliyah seperti itu mendorong mereka mengubur anak perempuan hidup-hidup karena takut cela dan aib. Penguburan anak perempuan tersebut dilakukan dengan cara yang sangat sadis tanpa ada rasa sayang dan belas kasih sama sekali. Anak perempuan tersebut dikubur hidup-hidup. Mereka melakukan perbuatan terkutuk itu dengan berbagai macam cara. Di antaranya, jika lahir seorang bayi perempuan, mereka sengaja membiarkan bayi itu hidup sampai berusia 6 tahun, kemudian si bapak berkata kepada ibu anak yang malang tersebut: "Dandanilah anak ini, sebab aku akan membawanya menemui paman-pamannya." Sementara si bapak telah menyiapkan lubang di tengah padang pasir yang sepi. Lalu dibawalah anak perempuannya itu menuju lubang tersebut. Sesampainya di sana si bapak berkata kepadanya: "Lihatlah lubang itu!" lalu sekonyong-konyong ia dorong anak itu ke dalamnya dan menimbunnya dengan tanah secara sadis dan keji. 

Di tengah-tengah masyarakat jahiliyah seperti itulah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam muncul dengan membawa agama yang agung ini, agama yang menghormati hak-hak perempuan, baik statusnya sebagai ibu, istri, anak, kakak ataupun bibi. 

Putri-putri beliau begitu banyak mendapat curahan kasih sayang dari beliau shallallahu 'alaihi wasallam. Apabila Fathimah radhiyallahu 'anha datang, beliau akan segera bangkit menyambutnya sambil memegang tangannya, lalu menempatkannya di tempat duduk beliau shallallahu 'alaihi wasallam. Demikian pula bila Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam datang mengunjungi Fathimah radhiyallahu 'anhu, ia segera bangkit menyambut beliau shallallahu 'alaihi wasallam sambil menuntun tangan beliau dan menciumnya serta menempatkan beliau di tempat duduknya. (Sebagaimana tertera dalam HR. Abu Daud, Tirmidzi dan An-Nasaai) 

Meskipun beliau begitu sayang kepada putri-putrinya dan begitu memuliakan mereka, namun beliau rela menerima talaq (perceraian) kedua putri beliau Ruqaiyyah dan Ummu Kaltsum radhiyallahu 'anhuma dari suami mereka, yaitu 'Utbah dan 'Utaibah putra Abu Lahab setelah turun surat Al-Lahab ("Binasalah kedua tangan Abu Lahab"). Beliau tetap sabar serta mengharap pahala dari Allah Ta'ala. Beliau tidak berkenan menghentikan dakwah atau surut ke belakang. Pasalnya kaum Quraisy mengancam, bila beliau tidak menghentikan dakwah, maka kedua putri beliau akan dicerai. Namun beliau tetap teguh dan sabar serta tidak goyah dalam mendakwahkan agama Islam. 

Di antara bentuk sambutan hangat beliau terhadap putri beliau adalah sebagaimana yang dituturkan 'Aisyah radhiyallahu 'anha ia berkata: "Pada suatu hari kami, para istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, berada di sisi beliau. Lalu datanglah Fathimah radhiyallahu 'anha kepada beliau dengan berjalan kaki. Gaya berjalannya sangat mirip dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melihatnya, beliau memberikan ucapan selamat untuknya, beliau berkata: 
"Selamat datang wahai putriku." Kemudian beliau tempatkan ia di sebelah kanan atau kiri beliau." (HR. Muslim) 

Di antara bentuk kasih sayang dan cinta beliau kepada putri-putri beliau ialah dengan mengunjungi mereka dan menanyakan kabar dan problem yang mereka hadapi. Fathimah radhiyallahu 'anha pernah datang menemui beliau shallallahu 'alaihi wasallam mengadukan tangannya yang lecet karena mengadon tepung, ia meminta seorang pelayan kepada beliau. Namun Fatihmah radhiyallahu 'anha tidak bertemu dengan beliau. Fathimah radhiyallahu 'anha melaporkan kedatangannya kepada 'Aisyah radhiyallah 'anha. Setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kembali, 'Aisyah radhiyallahu 'anha mengabarkan perihal kedatangan Fathimah radhiyallahu 'anha. 'Ali radhiyallahu 'anhu menuturkannya kepada kita: 

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam lalu datang menemui kami berdua saat kami sudah berbaring di atas dipan. Ketika beliau datang, kamipun segera bangkit. Beliau shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Tetaplah di tempat kamu!" beliaupun mendekat lalu duduk di antara kami berdua hingga aku dapat merasa-kan sejuk kedua telapak kaki beliau di dadaku. Beliau bersabda: 

"Maukah kamu aku tunjukkan sesuatu yang lebih baik bagi kamu berdua daripada seorang pelayan?" Apabila kamu hendak tidur, bacalah takbir (Allahu Akbar) tiga puluh empat kali, tasbih (Subhaa-nallaah) tiga puluh tiga kali, dan tahmid (Alham-dulillahi) tiga puluh tiga kali. Sesungguhnya bacaan tersebut lebih baik bagimu daripada seorang pelayan." (HR. Al-Bukhari) 

Sungguh, pada diri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam terdapat teladan yang baik bagi kita, teladan dalam kesabaran dan ketabahan. Seluruh putra-putri beliau wafat sewaktu beliau masih hidup -kecuali Fathimah radhiyallah 'anha, namun meskipun demikian beliau tidak menampar-nampar wa-jah, merobek-robek pakaian dan tidak mengadakan kenduri kematian (sebagaimana yang dilakukan mayoritas manusia sebagai ungkapan kesedihan dan belasungkawa). Beliau shallallahu 'alaihi wasallam tetap sabar dan tabah dengan mengharap pahala dari Allah Ta'ala serta ridha atas takdir dan ketentuan Allah Ta'ala.

SUBHANALLOH, TAWAKALTU ALALLOH WA KAFAA BILLAHI WAKIIL.
SUBHANAKA ANTA WALIYUNA WA UFAWIDHU AMRI ILALLOH.