INDAHNYA WUDHU
Beberapa waktu-waktu terakhir kita bisa bersyukur, karena telah banyak buku-buku yang beredar di masyarakat yang membahas mengenai shalat, termasuk didalamnya pelatihan shalat “khusyu’” yang diadakan oleh beberapa pihak.
Penegakkan shalat harus diawali dengan sebuah pengetahuan
tentang hal – hal yang menyertainya. Karena amal sedikit
dibarengi ilmu pengetahuan, adalah lebih baik daripada amal
banyak penuh kebodohan, sehingga pengetahuan mendalam
tentang syarat, rukun termasuk adab lahir maupun batin
menjadi hal mutlak, bila ingin menapaki “perjalanan dalam
shalat”.
Wudhu merupakan tahap pendahuluan dalam proses “penyucian
yang agung” dengan menggunakan “air yang merupakan rahasia
kehidupan dan hidup itu sendiri” laksana proses penyucian
yang dilakukan Jibril kepada Rasulullah dengan menggunakan
air suci “zamzam” dengan membelah dada hingga hilang segala
hasud dan dengki, bahkan terisi dengan berbagai ilmu, iman
dan hikmah, sehingga bisa diperjalankan dalam “Isra’ dan
Mi’raj” sebuah perjalanan spiritual yang menjadi titik balik kemenangan, setelah diterpa berbagai ujian dalam kehidupan Rasulullah beserta kaumnya pada saat itu.
Proses penyucian dalam wudhu tak sekedar siraman air yang tanpa makna, namun hakikatnya melebihi dari ritualnya itu sendiri, karena wudhu yang sebenarnya merupakan proses
pembersihan jiwa dari segala noda dan cela yang dilakukan
oleh nafsu – nafsu dunia yang telah memperalat tangan,
wajah, kepala dan kaki.
Setelah terbersihkan dari segala noda baru si hamba
diperbolehkan mulai memasuki halaman – halaman untuk
menghadiri “pertemuan agung dari segala keagungan bahkan
jauh – jauh melebihi batas keagungan yang terbersit oleh
fikiran dan akal manusia itu sendiri”.
Kemudian saat undangan suci “menuju kemenangan”
diperdengarkan, maka sang hatipun begitu bergejolak untuk
mendatanginya, sekalipun dengan “merangkak” karena begitu
menggelora keinginan rindunya, untuk mendatangi pertemuan
dengan Sang Kekasih.
Dengan berpakaian “tawadhu” dan membuang pakaian-pakaian “kesombongan” si hambapun tertatih – tatih melangkah ke halaman “tempat pertemuan” dengan penuh kegelisahan “akan tertolaknya penghadapannya” dan rasa malu yang begitu tinggi, atas ditutupinya keburukan – keburukan perangai dan tindak lakunya, dengan pakaian “hijab malakut” oleh Sang Kekasih, sehingga orang lain tidak mengetahui kejelekannya.
Kemudian, ditengah keputusasaan dan harapan akan rakhmat dan kasih sayang yang begitu agung dari Sang Kekasih, si hamba mulai berdiri dengan lurus, menghadapkan wajahnya kepada Sang Kekasih dan menutup semua kekerdilan – kekerdilan di belakangnya, hanya satu menatap Sang Maha Agung dari Segala Keagungan Yang Ada, hingga terbukalah pintu pertama saat lisan terbata – bata berucap, “Allahu Akbar ( Allah Maha Besar )”, kemudian si hambapun melangkah dengan penuh rasa malu, dan tawadhu karena melihat keagungan yang belum pernah tergambarkan oleh dirinya.
Iapun terus menerus memuji – muji Sang Kekasih, karena telah memberi “perkenan-Nya” untuk masuk, karena sesungguhnya “tanpa perkenan-Nya” ia termasuk golongan setan yang terkutuk. Iapun tersungkur jatuh tak tersadarkan diri, karena begitu ngeri yang tanpa batas melihat kengerian di hari “yaumid diin”, kemudian Sang Kekasihpun melimpahkan “limpahan rakhmat-Nya” hingga si hamba diberi kemampuan untuk memohon supaya digolongkan ke dalam “orang-orang yang beruntung dan bukan golongan orang – orang yang sesat”
Demikianlah, si hamba terus melangkah dan melangkah sampai “mendengar dan menyaksikan” semua sujud dan tasbihnya semua makhluk di langit dan bumi hingga iapun terjatuh dan terjatuh lagi karena tidak sanggup melihat keagungan dan keluasan yang ia saksikan.
Ini adalah sekelumit lintasan yang tergambar melalui tulisan ini, dan sebenarnya tulisan inipun tidak akan menampung begitu maha luas dan mendalamnya “keindahan perjalanan dalam shalat”. Yang tertulis disinipun hanya kata dan ungkapan dari penulis, karena saya sendiripun belum sampai pada tahap anugerah seperti itu.
Namun ingatlah, bahwa perjalanan itu sungguh bukan merupakan perjalanan yang mudah, mutlak dibutuhkan bimbingan “sang mursyid mukammil” untuk bisa berjalan dengan benar. Karena godaan di kiri kanan perjalanan itu sendiri banyak jumlah dan variasinya.
Tulisan berikut saya mulai dari peristiwa agung yang
mengawali lahirnya perintah “shalat” dari Allah SWT.
Pemaparan tersebut saya kutip dari berbagai sumber yang
layak dipercaya, termasuk didalamnya “bagaimana cara terbaik untuk bisa memahami peristiwa isra’ mi’raj”.
Kemudian dilanjutkan dengan apa yang disebut proses
“pembersihan diri” yaitu wudhu dari adab batin menuju wudhu
sampai proses wudhu itu sendiri, dengan lebih
menitikberatkan kepada proses penyucian dari noda-noda batin manusia. Setelah tahap penyucian kemudian mulailah tahap persiapan menuju pertemuan agung itu sendiri, dimulai berbagai persiapan menuju shalat seperti saat adzan dan iqomah, pakaian dalam shalat sebagai penutup aurat batin dan lahir,tempat pelaksanaan shalat serta kiblat dalam shalat. Setelah hal tersebut terpenuhi, barulah mulai menuju tahap – tahap dalam perjalanan menuju Allah yaitu shalat.
Diawali dengan “qiyam” yang merupakan simbol lurus sesuai syari’ah dan tetap istiqomah tidak terganggu godaan kanan kiri,sampai peristiwa salam, yakni ketika kita kembali setelah melalui berbagai tahapan perjalanan.
“Ya Allah jauhkan dari diri kami sum’ah dan mahbubiyyah,
jadikanlah setiap hembusan tarikan nafas kami adalah nafas
untuk mengingat nama-Mu…. Jadikanlah setiap lintasan fikiran kami adalah anugrah untuk bertafakur kepada-Mu…. Jadikanlah setiap tetesan keringat kami adalah tetesan upaya untuk
Beberapa waktu-waktu terakhir kita bisa bersyukur, karena telah banyak buku-buku yang beredar di masyarakat yang membahas mengenai shalat, termasuk didalamnya pelatihan shalat “khusyu’” yang diadakan oleh beberapa pihak.
Penegakkan shalat harus diawali dengan sebuah pengetahuan
tentang hal – hal yang menyertainya. Karena amal sedikit
dibarengi ilmu pengetahuan, adalah lebih baik daripada amal
banyak penuh kebodohan, sehingga pengetahuan mendalam
tentang syarat, rukun termasuk adab lahir maupun batin
menjadi hal mutlak, bila ingin menapaki “perjalanan dalam
shalat”.
Wudhu merupakan tahap pendahuluan dalam proses “penyucian
yang agung” dengan menggunakan “air yang merupakan rahasia
kehidupan dan hidup itu sendiri” laksana proses penyucian
yang dilakukan Jibril kepada Rasulullah dengan menggunakan
air suci “zamzam” dengan membelah dada hingga hilang segala
hasud dan dengki, bahkan terisi dengan berbagai ilmu, iman
dan hikmah, sehingga bisa diperjalankan dalam “Isra’ dan
Mi’raj” sebuah perjalanan spiritual yang menjadi titik balik kemenangan, setelah diterpa berbagai ujian dalam kehidupan Rasulullah beserta kaumnya pada saat itu.
Proses penyucian dalam wudhu tak sekedar siraman air yang tanpa makna, namun hakikatnya melebihi dari ritualnya itu sendiri, karena wudhu yang sebenarnya merupakan proses
pembersihan jiwa dari segala noda dan cela yang dilakukan
oleh nafsu – nafsu dunia yang telah memperalat tangan,
wajah, kepala dan kaki.
Setelah terbersihkan dari segala noda baru si hamba
diperbolehkan mulai memasuki halaman – halaman untuk
menghadiri “pertemuan agung dari segala keagungan bahkan
jauh – jauh melebihi batas keagungan yang terbersit oleh
fikiran dan akal manusia itu sendiri”.
Kemudian saat undangan suci “menuju kemenangan”
diperdengarkan, maka sang hatipun begitu bergejolak untuk
mendatanginya, sekalipun dengan “merangkak” karena begitu
menggelora keinginan rindunya, untuk mendatangi pertemuan
dengan Sang Kekasih.
Dengan berpakaian “tawadhu” dan membuang pakaian-pakaian “kesombongan” si hambapun tertatih – tatih melangkah ke halaman “tempat pertemuan” dengan penuh kegelisahan “akan tertolaknya penghadapannya” dan rasa malu yang begitu tinggi, atas ditutupinya keburukan – keburukan perangai dan tindak lakunya, dengan pakaian “hijab malakut” oleh Sang Kekasih, sehingga orang lain tidak mengetahui kejelekannya.
Kemudian, ditengah keputusasaan dan harapan akan rakhmat dan kasih sayang yang begitu agung dari Sang Kekasih, si hamba mulai berdiri dengan lurus, menghadapkan wajahnya kepada Sang Kekasih dan menutup semua kekerdilan – kekerdilan di belakangnya, hanya satu menatap Sang Maha Agung dari Segala Keagungan Yang Ada, hingga terbukalah pintu pertama saat lisan terbata – bata berucap, “Allahu Akbar ( Allah Maha Besar )”, kemudian si hambapun melangkah dengan penuh rasa malu, dan tawadhu karena melihat keagungan yang belum pernah tergambarkan oleh dirinya.
Iapun terus menerus memuji – muji Sang Kekasih, karena telah memberi “perkenan-Nya” untuk masuk, karena sesungguhnya “tanpa perkenan-Nya” ia termasuk golongan setan yang terkutuk. Iapun tersungkur jatuh tak tersadarkan diri, karena begitu ngeri yang tanpa batas melihat kengerian di hari “yaumid diin”, kemudian Sang Kekasihpun melimpahkan “limpahan rakhmat-Nya” hingga si hamba diberi kemampuan untuk memohon supaya digolongkan ke dalam “orang-orang yang beruntung dan bukan golongan orang – orang yang sesat”
Demikianlah, si hamba terus melangkah dan melangkah sampai “mendengar dan menyaksikan” semua sujud dan tasbihnya semua makhluk di langit dan bumi hingga iapun terjatuh dan terjatuh lagi karena tidak sanggup melihat keagungan dan keluasan yang ia saksikan.
Ini adalah sekelumit lintasan yang tergambar melalui tulisan ini, dan sebenarnya tulisan inipun tidak akan menampung begitu maha luas dan mendalamnya “keindahan perjalanan dalam shalat”. Yang tertulis disinipun hanya kata dan ungkapan dari penulis, karena saya sendiripun belum sampai pada tahap anugerah seperti itu.
Namun ingatlah, bahwa perjalanan itu sungguh bukan merupakan perjalanan yang mudah, mutlak dibutuhkan bimbingan “sang mursyid mukammil” untuk bisa berjalan dengan benar. Karena godaan di kiri kanan perjalanan itu sendiri banyak jumlah dan variasinya.
Tulisan berikut saya mulai dari peristiwa agung yang
mengawali lahirnya perintah “shalat” dari Allah SWT.
Pemaparan tersebut saya kutip dari berbagai sumber yang
layak dipercaya, termasuk didalamnya “bagaimana cara terbaik untuk bisa memahami peristiwa isra’ mi’raj”.
Kemudian dilanjutkan dengan apa yang disebut proses
“pembersihan diri” yaitu wudhu dari adab batin menuju wudhu
sampai proses wudhu itu sendiri, dengan lebih
menitikberatkan kepada proses penyucian dari noda-noda batin manusia. Setelah tahap penyucian kemudian mulailah tahap persiapan menuju pertemuan agung itu sendiri, dimulai berbagai persiapan menuju shalat seperti saat adzan dan iqomah, pakaian dalam shalat sebagai penutup aurat batin dan lahir,tempat pelaksanaan shalat serta kiblat dalam shalat. Setelah hal tersebut terpenuhi, barulah mulai menuju tahap – tahap dalam perjalanan menuju Allah yaitu shalat.
Diawali dengan “qiyam” yang merupakan simbol lurus sesuai syari’ah dan tetap istiqomah tidak terganggu godaan kanan kiri,sampai peristiwa salam, yakni ketika kita kembali setelah melalui berbagai tahapan perjalanan.
“Ya Allah jauhkan dari diri kami sum’ah dan mahbubiyyah,
jadikanlah setiap hembusan tarikan nafas kami adalah nafas
untuk mengingat nama-Mu…. Jadikanlah setiap lintasan fikiran kami adalah anugrah untuk bertafakur kepada-Mu…. Jadikanlah setiap tetesan keringat kami adalah tetesan upaya untuk
menggapai jalan-Mu….”
“Ya Allah jadikalan akhir segala urusan kami sebagai
kebaikan.”.
Amiin.
“Ya Allah jadikalan akhir segala urusan kami sebagai
kebaikan.”.
Amiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar